Monday, 10 June 2013

Frans Lebu Raya Bilang Polarisasi Itu Biasa


Pos Kupang - Sabtu, 8 Juni 2013 | 19:50 WIT


Laporan Wartawan Pos Kupang, Gerardus Manyela

Frans Lebu Raya , Gubernur NTT


POS KUPANG.COM, KUPANG -- Polarisasi dalam dunia politik itu biasa. Polarisasi itu lahir dengan sendirinya di dalam kultur masyarakat NTT. Untuk itu keragaman yang ada di daerah itu perlu dikemas secara baik menjadi kekuatan dalam pembangunan.


Emosional pemilih yang sudah terpolarisasi tidak boleh dibiarkan berkepanjangan, tapi harus dikemas menjadi kekuatan pembangunan sehingga NTT yang masih tertinggal dari daerah lain, dapat mengejar ketertinggalan itu agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Dengan demikian, kemiskinan yang masih menggerogoti warga daerah ini, perlahan-lahan dikurangi, bahkan dihilangkan.


Hal ini dikemukakan Gubernur NTT terpilih, Drs. Frans Lebu Raya, saat ditemui di sela-sela misa syukur keberhasilan Pilgub NTT di kediamannya di Oepoi, Senin (3/6/2013) malam.


Frans ditanya soal peta perolehan suara dua kandidat pada pilgub putaran kedua, Frenly dan Esthon-Paul. Hasil pilgub yang telah diplenokan KPU NTT, terlihat jelas, sentimen agama dan daerah, di mana pasang Esthon-Paul unggul di kantong-kantong Protestan dan Frenly unggul di kantong-kantong Katolik.


Frans mengakui polarisasi dan sentimen pemilih. Namun ia menyatakan, tidak pernah membangkitkan sentimen agama dan suku serta polarisasi tersebut untuk meraih kemenangan.


"Kalau dilihat dari hasil perolehan suara sepertinya membenarkan pandangan masyarakat itu. Tapi saya sendiri dalam berkampanye tidak pernah membangkitkan emosi suku dan agama. Saya hanya menawarkan program dan komitmen membangun daerah ini. Rupanya apa yang saya tawaran mendapat respons baik dari masyarakat dengan memilih Frenly," kata Frans.


Ia mengatakan, saat ini pilgub sudah selesai di tingkat penyelenggara KPU NTT. Masyarakat masih menunggu proses dalam upaya hukum pasangan Esthon-Paul. Kewenangan itu, lanjut Frans, ada di Mahkamah Konstitusi (MK), dan masyarakat diharapkan tenang, tabah menunggu dan mengikuti proses di MK itu. *


Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Read More

Sunday, 9 June 2013

Taufiq Kiemas, anak geng yang 'bertobat' karena Bung Karno


Reporter : Laurencius Simanjuntak
Senin, 10 Juni 2013 06:05:00
MERDEKA.COM

FOTO : Taufik Kiemas saat remaja. ©buku jembatan kebangsaan/penerbit rumah kebangsaan dan q communication


Sebagaimana remaja seusianya, Taufiq Kiemas awalnya tidak tertarik dengan persoalan politik. Bersekolah di SMA Negeri II Palembang, Taufiq lebih tertarik mengikuti tren anak muda 1960 dengan membentuk geng.


Seperti dalam 'Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas ' (2008), Taufiq membentuk geng bersama tujuh teman sebayanya yang diberi nama Don Quixotte. Don Quixotte adalah tokoh utama novel karya Miguel de Cerventes, sastrawan terkemuka Spanyol. Diceritakan, Don adalah bangsawan tua yang berangan-angan menjadi kesatria yang bisa menaklukkan dunia.


Sebagaimana Don Quixotte, Taufiq dan rekan-rekan satu gengnya sudah berangan-angan menaklukkan dunia. Kegiatan geng Don Quixotte pun tak berbeda dengan geng remaja lain, yakni seputar pesta dan hura-hura.


Kegiatan hedonis Taufiq itu akhirnya berhenti ketika dia mendengarkan radio yang menyiarkan langsung pidato Presiden Soekarno . Hari itu, 16 Agustus 1960 di Istana Negara, Bung Karno secara resmi membubarkan dan melarang Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI), karena kedua partai itu terlibat Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).


Bukannya kaget karena ayahnya Tjik Agus Kiemas adalah orang Masyumi, Taufiq malah terkagum-kagum dengan pidato sang proklamator.


"Hebat juga presiden yang satu ini, membubarkan partai politik langsung di depan para pemimpin partai tersebut," kata Taufiq saat itu.


Kekaguman terhadap Bung Karno itu membawa Taufiq pada rasa penasaran tentang sosok dan pemikiran sang pemimpin revolusi. Dia kemudian mulai rajin membaca buku-buku Soekarno yang dipinjam dari temannya dan mendengarkan pidato sang presiden di radio. Hal itu dilakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuanya.


Pemikiran Bung Karno kemudian terus didalami Taufiq hingga dia duduk di bangku kuliah. Di Universitas Sriwijaya, Taufiq lantas bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), besutan Bung Karno .


Melihat Taufiq masuk GMNI, lantas anggota Don Quixotte lainnya mengikuti jejak pemimpinnya tersebut. Sejak saat itu, Taufiq mulai meninggalkan kegiatan geng dan aktif dalam aktivitas politik kemahasiswaan.


Pada 1963 atau setahun setelah masuk GMNI, Taufiq bahkan sudah dipercaya menjadi pengurus organ kemahasiswaan itu di tingkat Kota Palembang. Dunia aktivisme itu pulalah yang membawanya pada perjumpaan dengan sang idola, Bung Karno , di Jakarta.


Di sela-sela pemberian kuliah oleh Bung Karno kepada kader GMNI, Taufiq bahkan sempat bersalaman dengan Putra Sang Fajar. "Ketika itu rasanya bangga sekali. Aku semakin yakin bahwa Bung Karno tokoh hebat," kata Taufiq.

Read More

Uskup Ende dan Ketua MUI Bilang Partai Politik Gagal Mencerdaskan Rakyat


Pos Kupang - Minggu, 9 Juni 2013 | 22:13 WITA


POS KUPANG.COM, ENDE -- Partai politik (parpol) dan pemerintah di Nusa Tenggara Timur (NTT) gagal mencerdaskan rakyat dalam berpolitik sehingga ketika pemilihan kepala daerah seperti pemilihan gubernur, rakyat lebih memilih berdasarkan faktor agama dan suku.


Demikian pendapat pemimpin agama, yakni Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Drs. Abdul Kadir Makarim; Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, dan Ketua MUI Kabupaten Ende, Haji Djamal Humris, yang dihubungi terpisah, Sabtu (8/6/2013).


Mereka diminta komentarnya terkait pemilihan gubernur putaran kedua, di mana rakyat memilih berdasarkan faktor agama dan suku.


Menurut Uskup Sensi, ideal kedewasaan berpolitik mayoritas raktat NTT masih jauh dari perilaku hidup berbangsa dan bernegara. "Hemat saya hal itu terjadi karena sengaja atau tidak disengaja dikerdilkan oleh para pemangku kepentingan politik, termasuk partai politik yang amat terbelit gurita pragmatisme politik," kata Uskup Sensi.


Uskup Sensi menilai, kewajiban parpol dan pemerintah untuk mencerdaskan rakyat dalam berpolitik amat disepelekan. Pemerintah sebagai regulator pun jauh dari peran yang semetinya dalam pendidikan politik.


Sementara kaum intelektual dan akademisi, demikian Uskup Sensi, kalah kuat dalam upaya membudayakan politik yang sehat dibanding daya merusak dari kepentingan politik pragmatis yang masif dan dengan kekuatan duit pula (money politic) yang terus membodohkan rakyat.


Uskup Sensi mengatakan, selama parpol belum sehat dalam kiprah tugas dan tanggung jawabnya, tidak terhindarkan, warna primodialisme akan tetap kental dalam politik pilkada di NTT.


"Dalam kaitan dengan mayoritas pemilih yang tersandra penyakit primodialisme, kondisi kemiskinan ekonomi tetap jadi variabel logis yang menyuburkan. Tidak adil rakyat dipersalahkan," tegas Uskup Sensi.


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ende, Haji Djamal Humris, mengatakan, masyarakat NTT belum cerdas dalam berpolitik.


"Mestinya harus dipahami bahwa kita mau memilih pimpinan wilayah atau gubernur untuk penyelenggaraan pemerintahan. Bukan untuk memimpin lembaga keagamaan. Tentu yang dikedepankan adalah figur yang dipandang mampu menjalankan pemerintahan. Bukan karena figur tersebut lebih dekat karena sesuku atau seagama. Atau karena lebih religius dari figur yang lain. Bukan itu," tegas Haji Djamal.


Menurut dia, apa yang terjadi saat ini karena masyarakat belum paham betul syarat-syarat apa yang dibutuhkan untuk seorang calon gubernur. "Kita perlu belajar dari masyarakat Jakarta ketika memilih Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta," ujarnya.


Ketua MUI NTT, Drs. Abdul Kadir Makarim, mengatakan, selama ini saat pemilihan gubernur, bupati dan walikota selalu mengedepankan pola pemikiran primordial dengan memilih seorang pemimpin berdasarkan suku dan agama.


Menurut dia, masih kuatnya pemikiran primodial di NTT, tidak terlepas dari kegagalan parpol memberikan pendidikan politik yang benar bagi masyarakat NTT. "Memang pemikiran yang primodial tidak bisa dihindari lagi dalam perhelatan politik pemilihan kepala daerah. Apalagi di NTT yang sangat kental dengan primodial tentu pemikiran seperti ini pasti selalu mewarnai perhelatan politik di daerah ini," kata Abdul Kadir.


Ia mengatakan, idealnya dalam memilih seorang kepala daerah, pemikiran primodial harus dihindari karena proses demokrasi pemilihan kepala daerah bukan untuk memilih kepala suku atau pemimpin agama.


Pemikiran primodial, demikian Makarim, terkadang dihembuskan oleh tim sukses dan pengurus parpol untuk mempengaruhi masyarakat dalam memilih seorang kepala daerah. "Priomodial mulai dihembuskan tim sukses dan pengurus partai demi memenangkan jagonya, sehingga dipilih rakyat. Ini kegagalan partai politik dalam melakukan pembinaan berdemokrasi yang baik bagi masyarakat," tegas Makarim.


Dalam memilih kepala daerah, lanjut Makarim, terkadang juga tokoh agama ikut memberikan dukungan kepada jagonya. "Tokoh agama sebagai panutan harus bersikap netral agar umat beragama bisa memilih seorang pemimpin dengan hati nurani, dan tidak berdasarkan agama dan suku," tegasnya. (rom/ben)

Foto : Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota

Read More

DATA ADMIN BLOG



NAMA : GABRIEL JUVENSIUS


ASAL : MAUMERE/FLORES/NTT


PENDIDIKAN : SEDANG DI S1 TEKNIK KOMPUTER STMIK PROFESIONAL MAKASSAR


INFO KONTAK :
FB :
GABRIEL KRADO BAOMEKOT


TWITER :
@GEBYNENA


GMAIL :
GABRIELNENA100@GMAIL.COM


PIN BB :2A706579
NO HP : 085342217181


ALAMAT RUMAH : JL. CENDRAWASIH NO. 530. KOTA MAKASSAR


PENDIDIKAN : SEDANG DI S1 TEKNIK KOMPUTER STMIK PROFESIONAL MAKASSAR


SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SEMOGA BERMANFAAT

Read More

Saturday, 8 June 2013

Perjalanan Politik Taufiq Kiemas

FOTO :ALM. TAUFIK KIEMAS


TEMPO.COM, Jakarta -Taufiq Kiemas, seorang politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang lahir di Jakarta pada 31 Desember 1942, sejak masa pendudukan Jepang di di Indonesia. Dia memulai karier politiknya sejak duduk di bangku mahasiswa sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).


Lahir dari pasangan orangtua asal pulau Sumatera, Tjik Agus Kiemas (Ayah) dan Hamzathoen Roesyda (Ibu). Lantaran Ibunya berasal dari tanah Minang, dia didapuk sebuah gelar khas, yakni Datuk Basa Batuah. Gelar tersebut merupakan menggambarkan sebuah wakil (penghulu) dari darah ibunya di Kanagarian Sabu, Batipuh Ateh, Tanah Datar, Sumatera Barat.


Karier politik profesionalnya dimulai sejak dirinya masuk ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan terdaftar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tahun 1992. Selama orde baru berkuasa, karier politiknya banyak dikebiri oleh pihak penguasa yang waktu itu dikuasai oleh pihak militer.


Kiprahnya mulai cemerlang semenjak rezim orde baru tumbang. Setelah itu, tepatnya pada Pemilihan Umum Tahun 1999, PDI-P keluar sebagai pemenang pemilu. Kemenangan ini mengantarkan istrinya sekaligus anak dari Presiden RI Pertama, Megawati Soekarno Putri, menjadi wakil presiden dari Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid.


Kabinet yang dipimpin oleh Gus Dur, panggilan akrab Abdurrahman Wahid, tidak genap berusia dua tahun. Ketika Gus Dur tidak lagi menjabat menjadi presiden, Mega yang saat itu menjadi wakil presiden, kemudian diangkat setelah ada sedikit perdebatan. Taufiq pun menjadi 'penasihat' kenegaraan bagi Mega.


Taufiq juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI-P, yang tak lama terpilih kembali menjadi anggota DPR Periode 2009-2014 pada daerah pilih Jawa Barat II. Pada periode ini dia didapuk menjadi Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) pada masa kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.


Sebagai politikus terkemuka, banyak penulis yang mengulas karier politiknya. Salah satu dari mereka adalah Derek Manangka yang menulis buku berjudul Jurus dan Manuver Politik Taufiq Keimas: Memang Lidah Tak Bertulang pada tahun 2009 lalu.


Pada 17 Desember 2011, Taufiq sempat menjalani operasi pergantian alat pemacu jantung di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Lalu, pada 10 Maret 2013 lalu, dirinya diganjar gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Kebangsaan dan Bernegara oleh Universitas Trisakti, Jakarta.


Ulasan singkat hidupnya pun pernah ditulis dalam sebuah buku autobiografi yang berjudul Tanpa Rakyat, Pemimpin Tak Berarti Apa-apa: Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas, yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada 2002.


Hari ini, Sabtu, 8 Juni 2013, pukul 19.01 waktu Singapura, atau pukul 18.01 waktu Indonesia, politikus senior ini dipanggil kembali ke hadapan Tuhan saat menjalani perawatan di Rumah Sakit General Singapura. Pramono Anung, seorang politikus PDI-P, yang pertama kali mengabarkan lewat media sosial. Kabar tersebut berbunyi, ""Telah meninggal dunia, Bapak Haji Taufiq Kiemas saat ini dan mohon diampuni seluruh kesalahan dan didoakan #duka".

Read More

Friday, 7 June 2013

Louis van Gaal Puji Ketangguhan Kurnia Meiga


TRIBUNNEWS.COM – Meski gawangnya kebobolan tiga kali di laga persahabatan Indonesia melawan Belanda, yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (7/6/2013) malam, namun penjaga gawang Kurnia Meiga tetap mendapat pujian. Pujian itu dilontarkan oleh pelatih Timnas Belanda, Louis van Gaal.


Gawang Kurnia Meiga sempat dibobol oleh Robin van Persie ketika pertandingan belum berjalan semenit, meski akhirnya gol itu dianulir. Hal itu rupanya melecut penampilan kiper Arema Indonesia tersebut.


Sepanjang babak pertama, Kurnia Meiga berhasil mematahkan peluang-peluang yang diciptakan para pemain Belanda. Penampilan gemilang Kurnia Meiga berlanjut di babak kedua, meski pada akhirnya gawangnya bobol tiga kali, lewat dua sundulan Siem de Jong (57’,68’), dan aksi individu Arjen Robben (89’).


Penampilan gemilang Kurnia Meiga mendapat acungan jempol dari pelatih Louis van Gaal. Mantan pelatih Bayern Muenchen itu mengaku sangat menyukai Kurnia Meiga.


“Reaksinya bagus. Dia juga bisa meloncat secara baik. Dia sering memainkan bola dengan kaki dan itu yang saya suka. Saya rasa dia kiper yang sangat berbakat,” ujar Louis van Gaal.

FOTO : KURNIA MEIGA

Read More

Laporan Pertandingan: Indonesia 0-3 Belanda


Sempat bermain tanpa gol di babak pertama, gawang Indonesia akhirnya bobol juga lewat gol-gol dari Siem de Jong dan Arjen Robben di babak kedua.


OLEH SANDY MARIATNA Ikuti @fasandym di twitter


Tim nasional Indonesia takluk 3-0 di tangan Belanda dalam laga uji coba di Stadion Gelora Bung Karno, Jumat (7/6).


Indonesia sempat mengimbangi Oranje tanpa gol di babak pertama. Ketika itu beberapa peluang dari Robin van Persie dkk di babak pertama masih mampu dimentahkan berulang kali oleh penampilan gemilang kiper Kurnia Meiga.


Sayangnya, kedudukan 0-0 itu tidak mampu dipertahankan pasukan Jacksen Tiago selepas turun minum. Sepasang gol sundulan dari Siem de Jong dan satu gol Arjen Robben di akhir laga menunjukkan adanya perbedaan kelas di kedua tim.


Babak Pertama


Tak sampai satu menit sesudah kick-off, Belanda sebenarnya sudah bisa unggul lebih dulu lewat sontekan Robin van Persie memanfaatkan bola muntah dari sundulan Wesley Sneijder. Sayang, striker Manchester United itu dalam posisi off-side. Tiga menit berselang, kembali RvP mengancam gawang Kurnia Meiga lewat sepakan kaki kanannya yang masih menyamping di kanan gawang.


Sepanjang babak pertama, pasukan Louis van Gaal terus menekan pertahanan Indonesia. Penguasaan bola praktis menjadi milik Oranje. Penjaga gawang Kurnia Meiga menjadi salah satu pemain tersibuk di kotak penalti. Kiper Arema ini berulang kali memotong, melompat, dan berjibaku untuk menghentikan laju bola dari Belanda. Berkumpulnya para pemain Indonesia di kotak penalti juga menjadi penyebab Van Persie dkk kesulitan membobol gawang Meiga.


Sementara itu, tuan rumah Indonesia tak memiliki banyak memiliki alternatif serangan selain lewat counter attack. Salah satunya di menit 23. Serangan balik cepat dari lini belakang berhasil meloloskan Greg Nwokolo sendirian di depan. Sayang Erik Pieters mampu mengejar Greg dan sukses menggagalkan peluang Tim Merah Putih.


Tak lama berselang, terjadi hal unik ketika para pemain meminta time-out kepada wasit Noor Mohamed asal Malaysia. Kedua kesebelasan pun terlihat mengambil nafas sejenak dan minum di pinggir lapangan sambil mendapat pengarahan dari pelatih.


Di 15 menit terakhir babak pertama, tercatat empat kali Van Persie memiliki peluang yang gagal ia maksimalkan. Menit 30, meski tanpa pengawalan, ia masih belum mampu menanduk sempurna umpan silang dari Daryl Janmaat. Tiga menit berselang, tendangan bebas yang didapatkan Belanda juga gagal ia manfaatkan. Begitu juga dengan tendangan jarak dekatnya di menit 37 yang masih melebar di atas gawang Indonesia. Di injury time, lagi-lagi Van Persie gagal menuntaskan peluangnya setelah mampu diblok Meiga.


Tepat sebelum paruh pertama berakhir, kembali Meiga berhasil mengamankan gawang Indonesia. Kali ini, ia sukses menggagalkan tendangan jarak dekat yang dilepaskan oleh Sneijder. Babak pertama pun berakhir dengan skor 0-0.


Babak Kedua


Di babak kedua, skema permainan tak berubah. Belanda terus menggempur Indonesia. Kali ini, Belanda sukses menemukan celah di barisan pertahanan Indonesia. Hasilnya langsung tampak di menit 53. Sundulan pemain pengganti Siem de Jong sukses menembus gawang Indonesia setelah memanfaatkan umpan silang dari Ruben Schaken. Belanda pun mencetak gol pertamanya.


Di menit berikutnya, gelandang serang yang kerap berposisi sebagai striker ini kembali mengancam gawang Meiga. Untungnya, tendangan dari luar kotak penalti masih bisa ditahan oleh Kurnia Meiga. Berikutnya, giliran Ricky van Wolfswinkel yang nyaris membobol gawang Indonesia. Umpan silang dari Janmaat tidak mampu dikontrol dengan sempurna oleh striker anyar Norwich City ini. Gol kedua Belanda seakan-akan tinggal menunggu waktu saja.


Barulah di menit 67, kembali Siem de Jong menjadi momok di pertahanan Indonesia. Kapten Ajax ini sukses menyambut umpan corner Arjen Robben yang lebih dahulu diteruskan oleh Schaken. Sundulannya tidak mampu diantisipasi oleh lini pertahanan dan Belanda unggul 2-0.


Usai time-out di pertengahan babak kedua, Indonesia mendapatkan peluang terbaik. Mendapatkan bola dari belakang, Andik Vermansyah menggiring bola dari pinggir lapangan tengah, melewati kawalan salah seorang pemain Belanda, sebelum melepas tendangan keras dari ujung kotak penalti. Sayang, bola masih membentur kaki lawan sehingga hanya menghasilkan tendangan sudut.


Memasuki 10 menit terakhir, Indonesia tampak terkuras fisiknya setelah digempur habis-habisan sepanjang laga. Hal ini dimanfaatkan oleh Arjen Robben di menit 90 yang sanggup melewati dua pemain belakang Indonesia sebelum melepaskan tendangan keras dari jarak dekat untuk membobol gawang Indonesia. Sampai injury time empat menit, skor 3-0 untuk Belanda tidak berubah.


Susunan Pemain:


Indonesia: Meiga; Salampessy (Zulkifly 48'), Igbonefo, M.Roby, Tony; Maitimo, Jufriyanto; Greg (Andik 46'), Wanggai (Bustomi 46'), Boaz, Van Dijk (Ian Kabes 67). Cadangan: Made Wirawan, Andrytani, Ruben Sanadi, Vendry Mofu, Hendro Siswanto.


Belanda: Cillessen (Vermeer 46'); Janmaat (Tiendalli 66'), Vlaar, Pieters (Heitinga 46'), Nelom; De Guzman, Sneijder (Siem de Jong 46'), Toornstra; Lens (Robben 14'), Van Persie (Van Wolfswinkel 46'), Schaken. Cadangan: Vorm, Duarte, Kuyt.



FOTO : ARJEN ROBEN BERUSAHA MELEWATI M.ROBY

Read More

GALERI: Suasana Jelang Laga Indonesia Vs. Belanda


Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mulai dipadati suporter kedua tim.


OLEH TEGAR PARAMARTHA


Pertandingan uji coba antara tim nasional Indonesia menjamu Belanda akan segera digulirkan beberapa jam lagi. Namun, di sekitar Stadion Gelora Bung Karno sudah tampak banyak suporter yang datang beberapa jam lebih awal.


Dari sana tampak para petugas keamanan yang telah siap sedia. Jumlah personel yang mengamankan laga ini diperkirakan sebanyak 2.524 orang.


Mengingat pentingnya laga yang terdaftar di kalender resmi FIFA ini, mereka akan melakukan pengecekan terhadap setiap tas yang dibawa oleh suporter untuk menghindari masuknya benda berbahaya yang dapat mengganggu keamanan.



Petugas Keamanan Bersantai Sebelum Pertandingan


Selain itu, tampak juga para pedagang yang memanfaatkan momentum pertandingan ini untuk mengeruk keuntungan lebih. Tidak hanya jersey timnas Indonesia saja, tetapi para pedagang juga menyediakan jersey timnas Belanda.

Pedagang Menggelar Barang Jualannya Di Sekitar Stadion


Dan yang paling utama tentu saja, para suporter. Tampak sudah banyak suporter Indonesia yang datang ke Stadion Gelora Bung Karno dengan jersey timnas Indonesia dan juga coretan Merah Putih di wajah, terlihat juga suporter asal Belanda yang mendukung langsung Oranje.


Namun, yang unik, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang mengenakan jersey timnas Belanda, bahkan ada yang membawa bendera bergambar logo KNVB [PSSI Belanda].



uporter tim nasional Indonesia



PENDUKUNG TIMNAS BELANDA

Read More

Ranking FIFA Brasil Terendah, Indonesia aman di posisi 170


Sementara itu, Belanda menyodok ke posisi lima setelah naik empat tangga.


OLEH SANDY MARIATNA Ikuti @fasandym di twitter


Brasil berada di peringkat terburuk sepanjang sejarah ranking FIFA. Tuan rumah Piala Dunia 2014 itu berada di posisi ke-22 dalam peringkat yang dirilis Juni 2013, turun tiga tingkat dari posisi bulan lalu.


Belanda naik empat tingkat ke posisi lima dan di bawah pemuncak klasemen Spanyol yang diikuti oleh Jerman (2), Argentina (3), dan Kroasia (4). Meski tak bermain dalam beberapa bulan terakhir, anak asuh Louis van Gaal ini memanfaatkan hasil buruk yang didapat Portugal (6), Kolombia (7), dan Inggris (9).


Pantai Gading, meski turun satu peringkat ke posisi 13, masih tetap bertahan sebagai tim dari Benua Afrika yang berperingkat tertinggi di atas Ghana (21) dan Mali (23). Jepang, yang baru saja mengamankan tiket Piala Dunia 2014, masih menjadi tim Asia terkuat meski turun dua peringkat dari posisi sebelumnya.


Sementara itu, posisi Indonesia masih sama dengan dua bulan terakhir alias belum bisa lepas dari peringkat 170. Posisi ini merupakan posisi terendah yang pernah dialami Tim Merah Putih.


Berikut adalah 10 besar ranking FIFA per Juni 2013
1. Spanyol
2. Jerman
3. Argentina
4. Kroasia
5. Belanda
6. Portugal
7. Kolombia
8. Italia
9. Inggris
10. Ekuador
…
170. Indonesia



Ranking FIFA Brasil terendah dalam sejarah

Read More

Tanggapan Tiga Pemain Belanda Tentang Indonesia


Dirk Kuyt, Wesley Sneijder, dan Arjen Robben menyampaikan kesan mereka terhadap kunjungan ke Indonesia.


OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter


Skuat Belanda telah siap menghadapi laga uji coba melawan Indonesia di stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (7/6) petang.


Sejumlah kegiatan dilakukan tim Oranje, seperti sesi latihan, klinik kepelatihan, serta kunjungan wisata ke Kota. Rombongan tamu juga disambut histeria fans sejak mendarat di bandara Halim Perdanakusuma, Rabu lalu. Perhatian para fans ini mendapat kesan khusus bagi pemain Belanda, seperti Dirk Kuyt.


"Rasanya sungguh luar biasa menyaksikan dampak Liga Primer Inggris di belahan dunia lain," ujar pemain Fenerbahce itu dilansir GOAL.com Belanda.


"Tidak ada gunanya keluar dari bus, karena kalau melakukannya kami takkan bisa ke mana-mana. Tapi saya tidak mengeluh. Orang-orang di sini sungguh ramah dan saya anggap perhatian mereka sebagai bentuk apresiasi."


Kuyt juga menjelaskan tur ini menuntut kebugaran fisik yang tidak main-main karena jarak tempat kunjungan serta waktu pertandingan setelah musim kompetisi baru saja usai.


"Tur ini sungguh berat karena banyak pemain baru saja menjalani musim yang ketat dan melelahkan. Lihat saja Arjen Robben yang harus berjuang sampai akhir Liga Champions. Kalau pernah merasakan apresiasi seperti yang kami dapatkan di Jakarta, ini dapat membantu penampilan kami. Jadi saya tak keberatan dengan semua perhatian fans, justru malah menambah energi saya," sambungnya.


Lain lagi kesan Wesley Sneijder dan Robben. Sneijder terkesan dengan promosi gencar yang dilakukan pihak promotor sehingga dirinya sendiri bisa merasakan langsung animo penonton Indonesia.


"Saya bangga menyaksikan spanduk di setiap ratusan meter di sekeliling stadion, termasuk dengan wajah saya terpampang di depannya. Saya bangga dengan fans di sini, sungguh indah," imbuh Sneijder.


Sedangkan Robben merasa sedikit rikuh dengan perhatian fans.


"Perasaan emosional begitu berbeda di sini. Setiap orang terkenal dianggap selayaknya dewa. Terasa agak janggal," tukas pemain Bayern Munich itu.



Dirk Kuyt menjadikan perhatian fans sebagai pendorong semangat usai menjalani musim kompetisi yang melelahkan.

Read More